TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI
DI SEKITAR KITA
Teknologi informasi komunikasi adalah penggunaan alat-alat teknologi
untuk mengelola sebuah informasi untuk kepentingan pribadi atau disebarkan kepada
publik agar dapat diakses oleh orang lain.
Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses,
penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan
teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan
alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke
lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah
dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi teknologi informasi dan komunikasi
mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan
pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer
(baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada
pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat
melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21, TIK masih terus mengalami berbagai perubahan dan perkembangannya.
Teknologi informasi komunikasi di sekitar kita. Mau tak mau kita
memakainya. Mau tak mau kita harus terhubung bersamanya. Mulai dari handphone.
Bukankah handphone adalah dasar dari teknologi informasi komunikasi. Khusunya
ponsel cerdas, tutsnya sudah sama dengan keyboard di laptop. Itulah sebabnya
mengapa teknologi informasi komunikasi dihapuskan di Kurikulum 2013. Setiap anak
dianggap sudah memiliki dasar-dasar komputer. Teknologi informasi komunikasi juga berkaitan erat dengan bahasa Inggris dan dianggap sebagai
kemampuan dasar sama seperti membaca dan menulis sebagai kemampuan dasar di SMA.
Tak heran anak-anak lebih melek information
tecnology atau teknologi informasi komunikasi daripada guru. Padahal
seharusnya guru harus terlebih dahulu melek information
tecnology atau teknologi informasi
komunikasi. Yang pertama mau tidak mau itu sudah menjadi kebutuhan anak-anak.
Yang kedua tentu kebutuhan guru dalam mengajar.
Menurut Vernon A. Magnesen dalam Quantum Teaching, kita belajar 10% dari
apa yang kita baca; 20% dari apa yang kita dengar; 30% dari apa yang kita
lihat; 50% dari apa yang kita lihat dan dengar; 70% dari apa yang kita katakan;
dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Jadi guru harus bisa
memanfaatkan kelima alat indra anak sebagai jalur belajar.
Bahkan teori kecerdasan ganda Howard Gardner sangat membutuhkan teknologi
untuk menfasilitasi setiap kecerdasan anak-anak yang berbeda di kelas. Kecerdasan
narasi untuk siswa yang menikmati belajar melalui cerita. Kecerdasan numerik
untuk siswa yang suka memilih angka dan pola. Kecerdasan logika untuk kemampuan
berpikir deduktif dan induktif. Kecerdasan eksistensi untuk siswa yang ingin
tahu tentang jenis pertanyaan mendasar. Kecerdasan kinestetik untuk siswa yang
belajar dan berbuat. Kecerdasan estetik untuk siswa yang terinspirasi oleh karya seni.
Kecerdasan sosial untuk siswa yang senag berinteraksi.
Ada
anak yang cerdas bahasa, maka guru dapat menerangkan dengan bahasa. Ada anak
yang cerdas musik maka guru dapat menyisipkan musik dalam ppt dan tentunya guru
harus belajar lagi bagaimana manambahkan musik dalam ppt-nya. Ada anak yang
cerdas gambar atau grafis maka guru bisa berangkat dari gambar-gambar saat
mulai menstimulasi anak. Ada yang cerdas kinestetik maka guru dapat memakai metode praktik dalam latihannya.
Beberapa program
yang dapat menfasilitasi setiap kecerdasan itu antara lain :
Wordprocessing,
desktop publishing, blogging dan email (linguistik).
Datahandling,
memecahkan masalah, petualangan permainan, pemrograman - menggaruk (Logis)
Menggambar
/ paint program, 3D pemodelan perangkat lunak, robot lantai, penyu grafis [2]
(Visual - Spasial)
Podcasting,
komposisi software - Garageband (Musical - aural)
Titk/ klik petualangan permainan, animasi (tubuh - kinestetik)
Program
kerjasama, sosial jaringan - Club Penguin dll (Interpersonal)
Blog
pribadi - reflektif (Intrapersonal)
Selain membantu mengajar, teknologi juga dapat membantu guru dalam
mengoreksi dan membuat nilai dengan cepat. Teknologi juga dapat membantu guru
mengajar jarak jauh bila berhalangan hadir, misalnya dengan meninggalkan video
camtasia. Dengan video ini guru tetap dapat menerangkan materi dan juga
menuntun anak mengerjakan latihan. Tidak seperti selama ini, bila guru tidak
hadir hanya meninggalkan catatan untuk disalin kembali pada anak-anak. Biasanya
mereka akan menyalinnya di kamera handphone masing-masing.
Manfaat teknologi informasi komunikasi yang lain : Pengalaman saya
sewaktu memulai Kurikulum 2013. Buku siswa masih dalam perjalanan sementara proses belajar mengajar tak punya
waktu untuk menunggunya tiba. Maka saya mendownload buku siswa dari BSE.
Selanjutnya soft copy itu saya sebar ke laptop siswa. Belajar dengan
metode kelompok. Setiap kelompok wajib punya satu laptop supaya bisa membaca
buku siswa tersebut.
![]() |
| Siswa per kelompok membaca soft copy Buku Siswa K13 |
Sehubungan mendesaknya penggunaan TIK dalam pendidikan, maka guru wajib memiliki lima keerampilan dasar TIK, yaitu :
1. Mampu mengoperasikan komputer.
Standarnya mampu menghidupkan, mengoperasikan, dan mematikan komputer dengan benar. Lebih jauh lagi mengerti hardware dan
software komputer plus skill ilmu komputernya.
2. Menguasai aplikasi perkantoran
(Office), wordprocessor (word), spreadsheet (excel), presentations (powerpoint).
Syukur-syukur mengerti aplikasi pengolah database semacam acces, dan lainya.
3. Mengerti internet. Minimal akrab
dengan situs pencarian seperti google, email, wiki, upload-download, dan
pengetahuan internet standar lainya. Lebih bagus lagi mengerti blogging, dan
situs e-learning lainya.
4.
Mengerti manajerial data dikomputer. Standarnya mampu membuat folder,
copy-paste.
5. Memiliki pengetahuan standar
mengenai software pendukung lainya, semacam winrar, pdf, player, dan lainya.
Masih banyak guru yang tidak bisa menggunakan laptop. Jangankan untuk
menngunakan laptop, memilikinyapun masih banyak yang belum. Bahkan ada sebuah
kabupaten, kepala dinasnya memaksa gurunya wajib membeli laptop khususnya yang
baru pertama kali menerima dana sertifikasi maka langsung dipotongkan untuk
membeli laptop tersebut.
Maka kepala sekolah dapat membuat latihan di sekolah misalnya memotivasi
guru-guru TIK atau guru bidang studi lain yang memiliki kemampuan dasar tersebut untuk mengajari guru-guru yang belum bisa yang
biasanya guru-guru seperti ini adalah guru tua atau lebih halusnya lagi guru
senior. Selain itu guru juga harus punya kemauan belajar sendiri. Bukankah
pemerintah memberikan dana sertifikasi untuk meningkatkan profesionalisme guru.
Guru dapat belajar mandiri membaca dan
menerapkannya. Mungkin belum bisa, tapi bila sudah bisa akan menjadi biasa.
Mungkin belum mengerti tetapi bila dipraktikan akan
mengerti. Sama seperti kalimat Howard Gardner, “Engkau tidak akan mengerti teori itu jika tidak mempraktikannya dan mempraktikkannya lagi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar