Selasa, 04 Oktober 2016

Mengajarkan Penulisan Daftar Pustaka di SMK

Mengajarkan Penulisan Daftar Pustaka di SMK
                                                            
Mengajarkan pelajaran  bahasa Indonesia bagi anak SMK merupakan hal yag menantang. Pelajaran bahasa Indonesia bukan ‘mata pelajaran’ bagi mereka, hanya selingan atau ‘korek-korek kuping’ dalam bahasa mereka. Pelajaran produktif itu yang utama, sementara pelajaran adaftif dan normatif hanya pelengkap saja.
Maka bersusah payahlah guru bahasa Indonesia menentramkan mereka selama 80 menit di kelas. Terlebih bila pelajaran ini diletakkan di les penghujung. Wah, bakalan tantangan luar biasa. Biasanya saya akan menunggu dua-tiga puluh menit sebelum mereka sampai di kelas. Memang jarak bengkel ke kelas memakan waktu 5-10 menit bila berjalan kaki. Tentu saja akan semakin lamban karena mereka berjalan berduyung-duyung disertai bau keringat dan lapar yang mendera.
Sekali waktu pernah  terjadi ‘bolos massal’. Maka segera saya menjemur mereka di lapangan sekolah dengan menghadirkan guru tamu untuk menghukum mereka. Mereka lebih respek  dengan kepala bengkel atau kepala program karena setiap hari mereka bertemu. Kuantitas jam produktif lebih banyak sehingga mengharuskan mereka sering bertemu.
Sebaiknya pelajaran adaftif atau normatif diletakkkan saja di awal pelajaran dan pelajaran produktif di penghujung hari demi  mengantisipasi hal di atas. Mereka akan tetap antusias karena sesuai minat mereka. Belum lagi kebutuhan fisik anak laki-laki (mayoritas bila di SMK Tehnik) aktif bergerak dan semua itu dapat disalurkan di bengkel kerja mereka. Hal ini memang belum pernah saya sampaikan ke pihak sekolah. Entahlah, mungkin karena belum pernah ada kesempatan dan semoga melalui tulisan ini menjadi kesempatan yang baik untuk menyuarakan semua ini.
Hal ini menjadi evaluasi bagi diri sendiri, mungkin pelajaran bahasa Indonesia belum  menjadi kebutuhan mereka. Andai sudah menjadi kebutuhan, mereka akan tetap antusias hadir di kelas. Maka mulai saya berkampanye bahwa pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran wajib Ujian Nasional dan rapor. Bila tak lulus KKM, meski semua mata pelajaran produktif  lulus maka tidak akan naik kelas. Tampaknya belum mempan juga dengan ancaman UN. Toh, sudah menjadi rahasia umum bagaimana pelaksanaan UN selama ini. Toh, gurunya yang ujian. “Ibu guru saja yang belajar”,  pernah ada seorang siswa berceloteh demikian di luar sana. Ya, untuk ini memang, lagi-lagi guru tak berkuasa.
Hal inilah juga menurutku yang sangat memengaruhi motivasi guru dalam mengajar.  Hadir di kelas hanya untuk 24 jam sertifikasi, selebihnya tanpa ‘roh mendidik’. Bagaimana siswa menguasai kompetensi mata pelajaran, tanpa arah bahwa ilmu yang diajarkan seharusnya mengubah karakter mereka.  Wajar saja, jika siswa semakin berperilaku liar.
Maka tetaplah kerjakan apa yang menjadi bagian seorang guru,  meski apa pun yang terjadi di ‘atas’ sana. “Anak-anak, Ibu minta hatimu sepuluh menit saja ya.. sepuluh menit ini akan berati untuk tiga soal Ujian Nasional. Ibu sudah survei, setidaknya tiga soal akan keluar hanya dari materi daftar pustaka ini saja”. Seruku dengan antusias mengawali pelajaran siang itu.

Maka tetaplah mengajar penuh gairah, anak-anak pun akan bergairah. Jadikan ruang kelas tempat yang menyenangkan. Mulai dari nama mereka. Misalnya,  “Joko Priono Tambunan (biasanya siswa akan tertawa karena Joko Priono si Jawa tidak mempunyai marga) menerbitkan sendiri  sebuah buku dengan  judul ‘Tips Menahlukkan Wanita’ sepuluh tahun yang akan datang” (Siswa juga akan tertawa karena si Joko terkenal banyak cewek), lanjutku sambil bercerita seraya menuliskan identitas buku tersebut di papan tulis.
Nama   pengarang                    : Joko Priono Tambunan
Tahun terbit                             : 2025
Judul buku                              : Tips Menaklukan Wanita
Kota terbit                               : Rantauprpaat
Penerbit                                   : Prionopress (press itu artinya penerbit ya)
Maka mulai masukkan hukum penulisan daftar pustaka, dan lagi-lagi tetap bercerita seraya menulis di papan tulis.
1.      Nama di balik, nama belakang diletakkan di depan (koma)
2.      Tahun (titik)
3.      Judul buku (titik)
4.      Kota terbit (titik dua)
5.      Penerbit (titik)
Tambunan, Joko Priono.2005.Tips Menahlukkan Wanita.Rantauprpat:Prionopress.
Begitu selanjutnya untuk dua pengarang, majalah atau internet. Tetap harus mengajak mereka terlibat dengan mencontohkan nama mereka dan judul-judul buku yang dekat dengan dunia mereka. Sebab sangat janggal bagi mereka nama Jerome S.Arcaro atau judul buku Pendidikan Berbasis Mutu. Parahnya buku teks atau buku pegangan memberi contoh nama pengarang dan judul buku yang asing bagi mereka.
Guru harus berusaha mengemas itu semua. Sedapat mungkin judul buku yang mewakili diri siswa itu sendiri dan tentu syaratnya sedikit banyak guru sudah mengenal mereka atau membaca kebiasaan mereka. Bukankah ini sebenarnya tugas mulia seorang guru, menjadikan kita guru sebagai orang tua kedua bagi mereka. Bukankah sebagai orang tua kita harus mengenal mereka?





Tidak ada komentar:

Posting Komentar