Mengajarkan
Penulisan Daftar Pustaka di SMK
Mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia bagi anak SMK merupakan hal
yag menantang. Pelajaran bahasa Indonesia bukan ‘mata pelajaran’ bagi mereka, hanya
selingan atau ‘korek-korek kuping’ dalam bahasa mereka. Pelajaran produktif itu
yang utama, sementara pelajaran adaftif dan normatif hanya pelengkap saja.
Maka bersusah payahlah guru bahasa Indonesia
menentramkan mereka selama 80 menit di kelas. Terlebih bila pelajaran ini
diletakkan di les penghujung. Wah, bakalan tantangan luar biasa. Biasanya saya
akan menunggu dua-tiga puluh menit sebelum mereka sampai di kelas. Memang jarak
bengkel ke kelas memakan waktu 5-10 menit bila berjalan kaki. Tentu saja akan
semakin lamban karena mereka berjalan berduyung-duyung disertai bau keringat
dan lapar yang mendera.
Sekali waktu pernah terjadi ‘bolos massal’. Maka segera saya
menjemur mereka di lapangan sekolah dengan menghadirkan guru tamu untuk menghukum
mereka. Mereka lebih respek dengan
kepala bengkel atau kepala program karena setiap hari mereka bertemu. Kuantitas
jam produktif lebih banyak sehingga mengharuskan mereka sering bertemu.
Sebaiknya pelajaran adaftif atau normatif
diletakkkan saja di awal pelajaran dan pelajaran produktif di penghujung hari
demi mengantisipasi hal di atas. Mereka
akan tetap antusias karena sesuai minat mereka. Belum lagi kebutuhan fisik anak
laki-laki (mayoritas bila di SMK Tehnik) aktif bergerak dan semua itu dapat
disalurkan di bengkel kerja mereka. Hal ini memang belum pernah saya sampaikan
ke pihak sekolah. Entahlah, mungkin karena belum pernah ada kesempatan dan
semoga melalui tulisan ini menjadi kesempatan yang baik untuk menyuarakan semua
ini.
Hal ini menjadi evaluasi bagi diri
sendiri, mungkin pelajaran bahasa Indonesia belum menjadi kebutuhan mereka. Andai sudah menjadi
kebutuhan, mereka akan tetap antusias hadir di kelas. Maka mulai saya
berkampanye bahwa pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran wajib Ujian
Nasional dan rapor. Bila tak lulus KKM, meski semua mata pelajaran
produktif lulus maka tidak akan naik
kelas. Tampaknya belum mempan juga dengan ancaman UN. Toh, sudah menjadi
rahasia umum bagaimana pelaksanaan UN selama ini. Toh, gurunya yang ujian. “Ibu
guru saja yang belajar”, pernah ada
seorang siswa berceloteh demikian di luar sana. Ya, untuk ini memang, lagi-lagi
guru tak berkuasa.
Hal inilah juga menurutku yang sangat memengaruhi
motivasi guru dalam mengajar. Hadir di
kelas hanya untuk 24 jam sertifikasi, selebihnya tanpa ‘roh mendidik’. Bagaimana
siswa menguasai kompetensi mata pelajaran, tanpa arah bahwa ilmu yang diajarkan
seharusnya mengubah karakter mereka. Wajar saja, jika siswa semakin berperilaku
liar.
Maka tetaplah kerjakan apa yang menjadi bagian
seorang guru, meski apa pun yang terjadi
di ‘atas’ sana. “Anak-anak, Ibu minta hatimu sepuluh menit saja ya.. sepuluh
menit ini akan berati untuk tiga soal Ujian Nasional. Ibu sudah survei, setidaknya
tiga soal akan keluar hanya dari materi daftar pustaka ini saja”. Seruku dengan
antusias mengawali pelajaran siang itu.
Maka tetaplah mengajar penuh gairah,
anak-anak pun akan bergairah. Jadikan ruang kelas tempat yang menyenangkan.
Mulai dari nama mereka. Misalnya, “Joko
Priono Tambunan (biasanya siswa akan tertawa karena Joko Priono si Jawa tidak
mempunyai marga) menerbitkan sendiri sebuah buku dengan judul ‘Tips Menahlukkan Wanita’ sepuluh tahun
yang akan datang” (Siswa juga akan tertawa karena si Joko terkenal banyak
cewek), lanjutku sambil bercerita seraya menuliskan identitas buku tersebut di
papan tulis.
Nama pengarang
: Joko Priono Tambunan
Tahun
terbit : 2025
Judul
buku : Tips
Menaklukan Wanita
Kota
terbit : Rantauprpaat
Penerbit : Prionopress
(press itu artinya penerbit ya)
Maka mulai masukkan hukum penulisan daftar
pustaka, dan lagi-lagi tetap bercerita seraya menulis di papan tulis.
1.
Nama
di balik, nama belakang diletakkan di depan (koma)
2.
Tahun
(titik)
3.
Judul
buku (titik)
4.
Kota
terbit (titik dua)
5.
Penerbit
(titik)
Tambunan, Joko Priono.2005.Tips Menahlukkan Wanita.Rantauprpat:Prionopress.
Begitu selanjutnya untuk dua pengarang, majalah
atau internet. Tetap harus mengajak mereka terlibat dengan mencontohkan nama mereka
dan judul-judul buku yang dekat dengan dunia mereka. Sebab sangat janggal bagi
mereka nama Jerome S.Arcaro atau
judul buku Pendidikan Berbasis Mutu.
Parahnya buku teks atau buku pegangan memberi contoh nama pengarang dan judul
buku yang asing bagi mereka.
Guru harus berusaha mengemas itu semua. Sedapat
mungkin judul buku yang mewakili diri siswa itu sendiri dan tentu syaratnya
sedikit banyak guru sudah mengenal mereka atau membaca kebiasaan mereka.
Bukankah ini sebenarnya tugas mulia seorang guru, menjadikan kita guru sebagai
orang tua kedua bagi mereka. Bukankah sebagai orang tua kita harus mengenal
mereka?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar